Permasalahan Utama Cinta Asmara
(Menyambung
tulisan Ustadz Raehanul Bahraen yang berjudul Antara Cintaku, Cintamu Dan
Cinta-Nya [4 Permasalahan Utama Cinta Asmara] bagian ketiga dari sisi sudut
pandang akhwat)
Yaa ikhwan,
sebagaimana halnya diri-diri kalian yang lebih cepat simpati dan condong kepada
para akhwat yang telah berjilbab lebar dan pula telah lengkap dengan cadarnya,
duduk dan khusyuk di dalam majelis-majelis ilmu untuk mempelajari
perkara-perkara agama, serta beberapa kriteria lain yang menjadi ukuran
keshalihan bagi kalian, daripada kepada para kuda liar yang sangat mudah sekali
kalian temui di pinggir-pinggir
jalan atau di pasar-pasar, yaitu kuda-kuda-pati mereka dengan punggung terbuka, perut kelihatan, betis tersingkap dan bahkan dengan paha terkuak tengah berlenggak-lenggok di tempat-tempat keramaian, mengobral segala keindahan diri-diri mereka yang bisa menjerumuskan kalian ke dalam jurang-jurang neraka, tepatnya ketika kalian tidak atau lalai dalam menundukkan pandangan-pandangan kalian darinya sehingga karenanya kalian akan membayang-bayangkan mereka di dalam hati dan pikiran kalian, apalagi dengan status ‘penghayal tingkat tinggi’ yang dinobatkan kepada kalian, kecuali bagi sebagian dari kalian yang masih diberkan taufiq oleh Allah Ta’ala, insya Allah.
jalan atau di pasar-pasar, yaitu kuda-kuda-pati mereka dengan punggung terbuka, perut kelihatan, betis tersingkap dan bahkan dengan paha terkuak tengah berlenggak-lenggok di tempat-tempat keramaian, mengobral segala keindahan diri-diri mereka yang bisa menjerumuskan kalian ke dalam jurang-jurang neraka, tepatnya ketika kalian tidak atau lalai dalam menundukkan pandangan-pandangan kalian darinya sehingga karenanya kalian akan membayang-bayangkan mereka di dalam hati dan pikiran kalian, apalagi dengan status ‘penghayal tingkat tinggi’ yang dinobatkan kepada kalian, kecuali bagi sebagian dari kalian yang masih diberkan taufiq oleh Allah Ta’ala, insya Allah.
Maka begitu
pulalah bagi kami yaa ikhwan, kami para akhwat akan jauh lebih cepat tertarik
dan luluh kepada para ikhwan yang celananya tidak isbal, yang memelihara
jenggotnya dengan baik, yang gigih menuntut ilmu syar’i, serta yang begini dan
yang begitu lainnya sesuai dengan standar keshalihan di dalam hati-hati dan
pikiran kami, daripada kepada mereka-mereka yang begajulan, mereka-mereka yang
menjadikan perempatan jalan dan terminal sebagai tempat nongkrong mereka, atau
daripada kepada mereka-mereka yang hanya disibukkan oleh motor dan sepakbola
saja.
Sekali lagi
kami ulangi ya ikhwan, kami sama halnya dengan kalian pada perkara ini, yaitu
kami pula tertarik kepada makhluk Allah dari jenis kalian yang diciptakan-Nya
untuk menjadi pasangan-pasangan kami. Kami merasakan gejolak yang sama dengan
kalian yaa ikhwan karena kami adalah saudari bagi kalian sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
إنما النساء شقائق الرجال
“Sesungguhnya wanita itu saudara
kandung laki-laki.” [HR. Ahmad no.26195, hasan lighairihi, tahqiq Syu’aib
Al-Arna’uth]
Sungguh yaa
ikhwan, harapan telah bertemu harapan akan tetapi hati masih terlarang untuk
mengambarkan semua harapan tersebut dan raga pula masih belum mampu untuk
mewujudkan harapan yang dimaksud. Namun, kita tetaplah dari kalangan manusia
nan rentan akan godaan dan tergoda, bukan dari kalangan malaikat nan dijamin
bebas dari segala dosa, malaikat nan akan senantiasa taat kepada Allah sembahan
kita semua.
Aduhai, ada
apakah gerangan dengan kita, ikhwan dan akhwat yang telah mengaji ini yaa
ikhwan? Bukankah para ustadz kita telah menjelaskan dengan terang mengenai
perkara ini dan bukankah para ulama kita pula telah menyampaikan dengan
gamblang tentang perkara ini? Tentang perkara yang tidak akan pernah kering tinta
pena-pena kita dalam menuliskannya, yang tidak akan pernah cukup
lembaran-lembaran kertas kita untuk menumpahkan semuanya, yang tidak akan
pernah membuat lidah-lidah kita capek ketika membicarakannya, yang tidak akan
pernah membuat otak-otak kita tidak habis piker ketika memikirkannya, serta
yang tidak akan pernah membuat hati-hati kita merasa nyaman apabila telah
terjangkiti olehnya!
Yaa ikhwan,
telah terang bagi kami, serta bagi kalian pula tentunya tentang hakikat cinta
dan bercinta dalam agama kita yang mulia ini, tentang perintah dan larangan
syariat sehubungan dengannya, serta tentang kabar gembira dan ancaman nan pedih
tak terkira ketika kita salah dalam berinteraksi dengannya!
Cinta adalah
perkara yang agung karena ia adalah penggerak utama manusia diantara tiga
penggeraknya, yaitu khauf/takut, roja’/berharap kemudian ialah mahabbah/cinta.
Cinta akan menjadi penggerak baik untuk urusan akhirat maupun dunia kita.
Sebagaimana dalam perkara shalat yang merupakan perkara akhirat kita, disana
ada khauf/takut akan ancaman terhadap sifat lalai untuk mendirikannya, ada
roja’/berharap akan pahala dan surga yang dijanjikan karenanya, serta ada
mahabbah/cinta akan kesukaan untuk selalu dekat dengan Allah Ta’ala. Maka cinta
dan kesukaan untuk selalu dekat dengan Allah adalah penggerak utamanya. Begitu
pula dalam urusan dunia, jika kita ingin bersafar contohnya, maka disana ada
khauf/takut jika terjadi kecelakaan di jalan, ada roja’/berharap agar sampai di
tempat tujuan dengan selamat dan pastinya ada mahabbah/cinta agar dapat menuju
tempat yang disukai.
Bagitulah
keagungan cinta, akan tetapi jika kita salah berinteraksi dengan cinta, maka
kita bisa terjerumus ke dalam larangan terbesar dalam agama kita yang mulia
yaitu kesyirikan dalam cinta, tepatnya ketika kita telah mendahulukan cinta
kepada mahkluk dibandingkan cinta kepada Allah Ta’ala. Ah, dalam perkara cinta
ini sungguh kami ingin seperti yang Allah firmankan,
وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لله
“Adapun orang-orang yang beiman lebih
dalam cintanya kepada Allah.” [Al-Baqarah : 165]
Selajutnya
yaa ikhwan, telah jelas bagi kita, insya Allah bahwasanya segala hubungan yang
kita jalin sebelum halal melalui kalimat-Nya nan mulia adalah terlarang dan
hanya akan menistakan diri-diri kita di dunia dan di akhirat kita, sehingga
sedikitpun kita tidak mengenal dan bahkan menolak secara keras lagi lantang
tentang ‘ide’ pacaran islami yang tengah digembar-gemborkan oleh orang-orang
yang telah sedikit ‘konslet’ (baca:error) urat syarafnya!
Di lain sisi
telah paham pula bagi kita sebagaimana nan telah kami sebutkan di awal kata,
meski apa jua keadaan maka kita tetaplah bagian dari mahluk Allah atas nama
manusia seluruhnya, makhluk Allah yang menjadi tempat bersarangnya segala salah
dan lupa, mahkluk Allah yang akan digempur dengan aneka godaan oleh para setan
dan iblis durjana, mahkluk Allah yang dijanjikan dengan surga apabila mampu
melewati segala godaan yang ada, serta mahkluk Allah yang diancamkan kepada
neraka apabila nekat membangkang kepada hukum-hukum-Nya.
Oleh sebab
itu kita harus berhati-hati yaa ikhwan karena iblis telah bersumpah akan
menyesatkan dan menggodai keturunan Adam dengan segala cara, termasuk dengan
menyimpangkan makna cinta yang suci menjadi cinta yang terlumuri syirik. Ketika
Allah azza wa jalla menghukum iblis dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis
menjawab,
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَْ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Karena Engkau telah menghukumku
tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang
lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka,
dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan
mereka bersyukur.” [Al-A’raf: 16-17]
Yaa ikhwan,
dengan kita telah mengaji atau belum, dengan kita telah menghafal sekian juz
dari Al-Quran serta sekian hadist dari hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam atau belum, dengan kita telah membaca sekian kitab dari kitab-kitabnya
para ulama atau belum, maka raga kita tetaplah raga manusia, jiwa kitapun
tetaplah jiwa manusia, yang apabila kita telah berlepas diri dari usaha untuk
menuntut ilmu dan meningkatkan keimanan kita kepada-Nya maka niscaya kita akan
dimasukkan kepada golongan manusia-manusia yang akan dinistakan sebagai
penduduk neraka, bahkan kita akan menjadi golongan manusia-manusia yang akan
dinistakan dibawah kenistaan nan telah ada karena ilmu yang ada pada kita malah
menjadikan kita sebagai manusia berusus terburai saja, hanya berkoar-koar di
dunia akan tetapi tidak bisa mengamalkannya!
Ketahuilah,
ilmu dan Al-Quran adalah hujjah yang bisa membela kita namun bisa pula
mengancam kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَ
الُقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Dan Al-Quran itu bisa menjadi hujjah
bagimu (membelamu) dan bisa menjadi hujjah atas kamu (mengancammu).” [HR.
Muslim dan hadits Al-Harits Al-Asy’ari]
Aduhai
cinta, ia tidak hanya menghampiri para manusia durjana pemuja syahwat semata,
akan tetapi ia juga akan mendatangi para manusia yang tengah berpayah dan
berdarah-darah dalam menjaga dirinya dari panasnya api neraka. Ia tidak hanya
menyambar-nyambar hati para pecinta roman dan puisi picisan saja, akan tetapi
juga akan membelai-belai hati para penuntut ilmu dia atas manhaj salaf yang
mulia, sebagai ujian akan keimanan yang tengah ia perjuangkan tentunya.
Sekarang yaa
ikhwan, kami pula tidak menutup mata akan banyaknya kaum kami, terutama
sebagian kecil dari kalangan yang telah mengaji pula terjangkit virus ini,
dilenakan dengan harapan-harapan indah akannya, dimabuk-kepayangkan kepada
sosok-sosok manusia berjakun dari jenis kalian sebelum adanya ikrar pada saat
akad yang mulia.
Telah
meraung-raung mereka dalam menangisi semua rasa yang belum pantas mereka
rasakan, telah berderaian air mata mereka ketika mendapati hati-hati mereka
telah semakin keras lantaran perasaan nan sungguh tidak mengenakkan jiwa, telah
sadar meraka bahwa apa-apa yang tengah mereka lakukan hanya akan membuat mereka
jatuh kedalam lubang kenistaan, namun sungguh yaa ikhwan, sungguh ujian tentang
cinta dan bercinta ini adalah ujian yang paling menguras tenaga dan pikiran,
karena akan menjadi kecil sajalah semua perkara apabila telah dihadapkan kepada
perkaranya, yaitu kepada perkara cinta dan bercinta!
Yaa ikhwan,
sebagaimana yang telah kita maklumi bahwasanya setiap kelompok itu ada
ujiannya, dan ujian bagi kita khususnya para pemuda adalah ujian tentang
perkara cinta dan bercinta. Kita permaklumkan, karena kita tidak akan masuk
surga sebelum mendapatkan ujian sebagaimana firman Allah Ta’ala,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan
masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya
orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan
kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga
berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "kapankah
datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat.” [Al-Baqarah: 214]
Akan tetapi
ini salah siapa yaa ikhwan?? Apakah semata-mata ia adalah kesalahan kaum kami
yang telah dilalaikan dalam menjaga hijab dan hatinya atau pula kesalahan kaum
kalian yang mencoba mendekati kami dengan topeng-topeng di balik lebatnya
jenggot-jenggot kalian?
Awal mula
petaka terjadi, ketika kami tengah disibukkan dengan studi-studi kami maka
datanglah serangan-serangan ta’aruf dari kalian, tepatnya serangan-serangan
ta’aruf atas dasar kebodohan dari kalian, yaitu hanya dengan modal pulsa HP dan
internet semata, bukan melalui perantara yang terpecaya!
Awalnya kami
tidak bergeming dengan segala ulah nista kalian karena kami bukanlah akhwat
gampangan yang dapat dengan mudah kalian pinang, atau lebih tepatnya kalian
permainkan melalui pesan-pesan ‘religius’ ala kalian, kami adalah akhwat-akhwat
yang dijaga dengan syariat dan manhaj yang mulia, yang apabila kalian
menginginkan diri-diri kami maka tunjukkanlah kejantanan kalian untuk meminta
kami kepada ayah-ayah kami!
Namun,
apalah daya yaa ikhwan, naluri kewanitaan kami nan sejatinya sangatlah suka
untuk diperhatikan dan merasa diistimewakan, ditambah karena sebab kelemahan
hati-hati dan kerapuhan jiwa-jiwa kami maka menjadi luluh jualah kami, menjadi
jebol jualah benteng pertahanan kami dengan segala aksi serong kalian untuk
merobohkannya.
Kalian yaa
ikhwan telah tahu bahwasanya hati-hati kami adalah hati-hati nan lemah karena
pada dasarnya kami memang telah memiliki kebengkokan, maka janganlah kalian
manfaatkan lemahnya hati-hati kami tersebut demi kepuasaan nafsu-nafsu kalian!
Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا
“Sesungguhnya wanita diciptakan dari
tulang rusuk dan ia (seorang wanita) tidak akan lurus bagimu di atas satu
jalan, maka jika engkau menikmatinya maka engkau akan menikmatinya dan pada
dirinya ada kebengkokan, dan jika engkau meluruskannya maka engkau akan
mematahkannya. Dan patahnya wanita adalah menceraikannya.” (HR Muslim II/1091
no 1468)
Kemudian yaa
ikhwan, fitrahnya kami adalah sebagai mahkluk nan cukup mudah berbesar rasa
karena merasa diutamakan oleh kaum kalian sehingga karena sebab ini kami akan
mudah sekali luluh ketika melihat perjuangan kalian untuk dapat masuk ke dalam
hati-hati kami, nan sejatinya ia tidaklah dapat dikatakan sebagai perjuangan,
karena sebenarnya ia adalah ulah busuk kalian atas dasar nafsu semata. Akan
tetapi apalah hendak dikata, ulah busuk kalian malah dinampakkan indah oleh
setan di dalam hati-hati dan fikiran kami, sehingga segala aib atau keburukan
tentang kalianpun seolah disamarkan dan nampak sebagai hebatnya ‘perjuangan’
kalian untuk mendapatkan diri-diri kami!
Yaa ikhwan,
jikalah kalian tidak berniat untuk benar-benar menikahi kami dalam masa
tenggang nan segera, maka mengapalah pula kalian sok-sok menyampaikan proposal
ta’aruf kalian kepada kami, disertai dengan sebuah pesan nan penuh kedzaliman,
“Mohon bersabarlah engkau menunggu dan jagakanlah selalu hatimu untuk daku
seorang yaa ukhty, insya Allah akan kupinang dan kunikahi engkau setelah sekian
tahun dari sekarang.”
Jikalah
kalian belum siap untuk berijab qobul dengan ayah-ayah kami, maka mengapa
pulalah kalian sok-sok hendak menadzor kami? Mengapalah pula kalian sok-sok
berlagak hendak melihat wajah dan telapak tangan kami padahal sejatinya kalian
hanya ingin mengetahui kualitas wajah-wajah kami nan dengan bersusah payah
telah kami sembunyikan di balik cadar-cadar kami!
Jikalah
kalian masih gamang hendak mengarungi samudra kehidupan bersama kami, maka
mengapa pulalah kalian sok-sok membooking kapal-kapal dan perahu kami?
Mengapalah pula kalian sok-sok membanggakan diri-diri kalian sebagai nahkoda
kapal nan sejati padahal kalian hanyalah pengendara-pengendara sepeda ontel
pada zaman kelinci?
Jikalah
kalian memang masih dalam masa-masa studi sehingga rasa-rasanya kalian belum
bisa menanggung semua beban tentang kami, maka mengapalah pula kalian sok-sok
tampil sebagai sosok yang jantan dihadapan kami? Mengapa pulalah kalian sok-sok
hendak menikah muda dengan semangat celana cingkrang dan jenggot kalian nan
memang lumayan tebal itu saja?
Jikalah
kalian ingin menunjukkan bakti-bakti kalian kepada para orangtua kalian
terlebuh dahulu sebelum mempersunting diri-diri kami, maka mengapalah pula
kalian sok-sok telah siap lahir dan batin untuk mencari kami? Mengapa pulalah
kalian sok-sok hendak memulai sebuah proses nan ‘terkesan’ syar’i padahal
sejatinya ia adalah kedok dari segala kemaksiatan dan kebobrokan akhlak-ahklak
kalian saja?
Jikalah
kalian masih gamang hendak memetik kuntum-kuntum kami nan memang tengah merekah
dan indah memekarkan kuncup-kuncupnya, maka mengapa pulalah kalian sok-sok
perkasa hendak memetik kami dari tangkai-tangkai kami? Mengapa pulalah kalian
sok-sok hendak memanjati pagar berduri di sekeliling taman kami, dan
tangan-tangan kalian sok-sok kuat untuk memetik kami dari tampuk-tampuk kami
padahal sejatinya kalian adalah pencuri-pencuri yang tak berhati nurani?
Jikalah
kalian belum terang hendak menjadikan kami sebagai ustadzah di dalam
rumah-rumah kalian, maka mengapalah pula kalian sok-sok berani untuk mengusik
ketenangan dan kenyamanan kami dengan segala aksi tebar petaka kalian? Mengapa
pulalah kalian membobol atap-atap rumah kami ketika kalian dapati semua
pintunya masih tergembok rapi?
Kemudian
untuk kalian yang tingkat ke-erroran hati, pikiran dan akhlaknya telah error
tingkat tinggi, jikalah pula kalian belum menahu diri akan kadar-kadar diri
kalian sendiri maka mengapa pulalah kalian sok-sok hendak mempoligami
istri-istri kalian dengan kami? Mengapa pulalah kalian sok-sok kasak-kusuk
untuk mencari nan kedua segala sementara nan pertama saja belum terurusi?
Mengapa pulalah kalian sok-sok berkoar-koar akan keadilan dalam nafkah lahir
dan bathin sementara untuk nan pertama saja belum tercukupi? Mengapa pulah
kalian sok-sok hendak membina kami dengan ilmu-ilmu kalian sementara nan
pertama saja telah hampir terbinasakan oleh diri-diri kalian sendiri?
Aduhai,
kemanakah ilmu-ilmu kalian ketika setiap minggu kalian pontang-panting untuk
menghadiri majlis-majlis ilmu itu hendak kalian buang? Kemanah kiranya
harta-harta karun kalian itu akan kalian campakkan? Sebegitu besarkah ujian nan
menimpa kalian sehubungan dengan perkara ini, atau sebegitu lemahnya kah
bongkah-bongkah keimanan nan bersarang di dalam hati-hati kalian sendiri?
Belumkah
sampai kepada kalian bahwasanya kami, para akhwat yang telah berjilbab lebar
ini adalah mahkluk yang akan menjadi fitnah terbesar bagi kalian-kalian yang
telah mengaji, sebagaimana mereka, para akhwat nan masih berpakaian kurang
bahan pula akan menjadi fitnah terbesar bagi kaum kalian lainnya yang belum
mengaji?? Atau jika tanpa pernjagaan dari Allah maka jangankan oleh kami-kami
nan telah tertutup rapat ini, oleh mereka-mereka nan masih terbuka lebar-lebar
saja kalian akan bisa pula terfitnah dengan fitnah yang lebih besar dan sungguh
menjijikkan, karena sejatinya kami semuanya adalah mahkluk Allah atas nama
wanita, sejatinya kami adalah mahkluk Allah yang akan menjadi fitnah dunia
terbesar bagi kalian semuanya!
Sebagaimana
sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
مَا
تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
"Tidaklah
aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya atas
laki-laki daripada wanita". [HR al-Bukhari no: 5096. Muslim, no: 2740,]
Aduhai, semakinlah
kalian menundukkan pandangan-pandangan kalian dari diri-diri kami yaa ikhwan,
janganlah kalian mudah terfitnah hanya karena jilbab-jilbab besar kami nan
melambai-lambai sebagai pertanda keshalihahan dan komitmen kami dalam berhijab
secara dzahir karena sungguh hal itu ukurannya adalah nisbi, sebagaimana ukuran
ketinggian kaki-kaki celana kalian dan pula ukuran ketebalan jenggot-jenggot
kalian. Apa-apa yang nampak oleh pandangan mata cukuplah sebagai parameter awal
dari masing-masing kita untuk saling menilai sementara parameter hati adalah
ukuran Allah semata, insya Allah. Wallahu a’lam.
Kita harus
hati-hati dengan pandangan mata yaa ikhwan, apalagi kalian karena ia adalah
panah setan. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman ia berkata, Rasulullah shallallahu
`alaihi wasallam bersabda,
النَّظْرَةُ إِلَى اْلمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ مَسْمُوْمٌ مَنْ تَرَكَهُ خَوْفَ الله أَثَابَهُ الله إِيْمَانًا يَجِدُ بِهِ حَلاَوَتَهُ فِيْ قَلْبِهِ
“Memandang wanita adalah anak panah
dari anak-anak panah Iblis yang beracun. Siapa yang meninggalkannya karena
takut kepada Allah, niscaya Allah memberinya pahala iman yang ia rasakan
manisnya dalam hatinya.” [HR. Ahmad 5/384, hasan dengan penguat]
Oleh sebab
itu yaa ikhwan, mintalah diri-diri kami nan benar-benar shalihah secara lahir
dan bathin insya Allah kepada Rabb yang Maha Mengetahui nan tampak maupun nan
tersembunyi, sebagaimana kami pula senantiasa meminta kepada-Nya agar Dia
memberikan kami salah seorang dari kalian nan shalih lahir dan batinnya pula,
insya Allah, amin.
Kemudian
dengarkanlah oleh kalian syair ini,
Angkat
pandanganmu terhadap para wanita,
yang amal
shalih adalah mas kawin mereka,
Bisikkan
pada jiwa tentang cinta pertama,
Mencintai
mereka adalah niaga yang laba,
Berusahalah
untuk mendapatkan mereka,
Jika ada
jalan dan telah tiba saatnya.
[Syair ini
tidak kami ketahui sumbernya, jika diantara pembaca ada yang tahu silakan
kabarkan kepada kami.red]
Ya ikhwan,
janganlah sesekali kalian mengangkat pandangan-pandangan kalian untuk mencari
satu diantara kami sementara diri-diri kalian belum siap untuk mengangkat beban
ayah-ayah kami di dunia apalagi di akhirat nanti. Marilah kita saling
berinstropeksi diri sembari mencukupi diri-diri kita dengan ilmu tentangnya
terlebih dahulu, karena sungguh menikah bukanlah perkara sepele nan bisa kita
mulai dengan semangat membara saja akan tetapi kosong dari ridha Allah Ta’ala.
Ah, telah
terlalu panjang kata-kata kasar yang kami rangkaikan untuk kalian yaa ikhwan,
mohon maafkanlah lisan-lisan kami yang tajam dan pula pena-pena kami nan
lancang dalam mengata-ngatai kalian. Sungguh kami tidak semata-mata menyalahkan
diri-diri kalian dalam perkara nan telah terlanjur terjadi ini karena kamipun
sebenarnya mempunyai andil dalam setiap prosesnya.
Sungguh yaa
ikhwan, memang tidaklah mungkin tepuk akan menghasilkan bunyi jikalah kalian
bertepuk dengan sebelah tangan saja, bukan? Tidaklah mungkin kalian akan berani
mengirimi kami sms sekian kali sehari jikalah tidak karena kami yang pernah
sekali waktu membalasinya. Tidaklah mungkin kalian akan menebarkan
pesona-pesona kalian jikalah kami yang tidak memberikanmu sebidang lahan di
hati-hati kami untuk menyemaikannya. Tidaklah mungkin kalian bisa memandangi
kami jikalah tidak karena kami yang menampakkan diri-diri kami di hadapan
kalian. Serta tidaklah mungkin kalian diam-diam bisa mencuri hati-hati kami
jikalah tidak karena kami yang telah melonggarkan kunci nan terpasang pada
pintu-pintunya itu. Kami pula salah yaa ikhwan, sekali lagi kami akui kalau
kami pula salah.” Lengkapnya silakan baca tulisan kami yang berjudul, Akhiy,
Engkau Telah Kutembak Mati
Sudahlah yaa
ikhwan, sekali lagi kami minta maaf kepada diri-diri kalian. Semoga Allah
Ta’ala jagakan hati-hati kami dan pula hati-hati kalian dari perkara nan
sungguh tidak mengenakkan hati lagi sangat menyesakkan dada ini jika kita telah
berurusan dengannya sebelum ikrar yang pasti, yaitu perkara cinta dan bercinta.
Semoga Allah
sabarkan dan kuatkan diri-diri kami dalam menunggu adzan maghrib nan dinanti
sebagaimana semoga Allah sabarkan kalian dalam menahan segala kehendak di siang
hari, sampai tiba masanya bagi kita untuk berbuka dan menikmati segala
keindahan dan pesona di dalam pernikahan yang syar’i, insya Allah, Amin.
***
28 September
2011
Bumi Allah,
Goresan Kami
Editor :
Ustadz Raehanul Bahraen
Komentar
Posting Komentar
komentar anda sebagai masukan yang membangun agar lebih giat Membaca, Mendengar, Menulis, dan Mengaplikasikan serta Mengajarkan