Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2012

Renungan dalam Istigfar

Gambar
Setiap kali kamu bangun tidur yang terucap hanya kalimat syukur Karna Allah masih mengizinkanmu menatap fajar Merasai hembusan bayu pagi yg menyusup celah jendela Tak ada yg berubah, Semuanya masih seperti sediakala Kemudian kamu meneruskan perjalanan kehidupan dan berdoa dengan harapan agar selamat sampai tujuan Dengan bimbingan-Nya kamu tidak pernah salah melangkah Tak melihat yg dilarang, tak menjamah yang tidak halal Tak menjamah yg bukan hak, dan tak mendengar yang batil Karena sadar atau tidak setiap waktu yg dilewati Pasti akan diminta pertanggung jawabannya diakhirat nanti dan semua lika-liku perjalanan kehidupan yg dilalui Begitu juga seluruh panca Indera yang telah dimiliki akan berbicara apa adanya tanpa sedikit pun ditutup-tutupi Setiap hari menangis dan memohon Ridha-Nya tetapi setiap hari juga melakuakn kesalahan

Ku Ingin Cinta yang Halal

ღღ ANA UHIBUKKA LADZI AHBABTANI LAHUU ღღ •Yaa Rabbi•*´¯)Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,berfikir sebelum bertindak,santun dalam berbicara,tenang ketika gundah,diam ketika emosi melanda,bersabar dalam setiap ujian.Jadikanlah kami orang yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq,sebijaksana Umar bin Khattab,sedermawan Utsman bin Affan, sepintar Ali bin Abi Thalib,sesederhana Bilal,setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhum ღ Amiin ya Rabbal' alamiin... •´♥..Aku hanya ingin cinta yang halal•´♥.. Entah apa yang kurasakan.. Salahkah aku merindukannya? Merindukan seseorang yang belum halal untukku...?? tentu aku tau aku salah Ya Allah.. Kadang,aku bingung apa yang harus kulakukukan?? Aku bercerita kepada seorang akhwat yang tentunya lebih paham tentang ini.. Dia berkata,” Justru dengan kesanggupan kamu menahan rasa rindu ini,maka di situlah pengorbanannya.. Mungkin memang sulit..Tapi percayalah,

Ketika Cinta Bertakbir

Gambar
Pemuda itu menangis tersedu-sedu di samping mihrab mesjid. Mushaf ia dekap erat-kuat ke dadanya. Sesekali ia me-lap air mata yang meleleh. Ia merasa begitu rapuh dan lemah. Begitu tak berdaya menghadapi seorang wanita. Ia telah tergila-gila pada wanita itu. Senyuman wanita itu bagai purnama di gelap gulita malam. Suara wanita itu laksana nyanyian bidadari yang merasuk ke pori-pori jiwanya. Ia menangisi dirinya yang tak lagi bisa merasakan nikmatnya berzikir. Menangisi hatinya yang tak lagi bisa khusyuk dalam shalat. Menangisi pikirannya yang selalu membawanya terbang ke wanita itu. Oh, sungguh hebat deritanya. Dulu ia begitu kokoh dan teguh. Orang-orang menganggapnya seorang laki-laki yang punya prinsip dan berkarakter. Apalagi saat orang-orang tahu dia begitu mampu menjaga hubungan dengan wanita, popularitas keshalehannnya semakin dikenal dan menjadi buah bibir. Itu dulu, namun kini ia begitu tak berdaya