HARUSKAH KITA TARBIYAH??
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Seorang sahabat bertanya, tentang apakah ia harus mengikuti tarbiyah
(liqoat)?? Ia adalah seorang lulusan pesantren, hafalan diatas
rata-rata. Hampir seluruh materi liqoat (paling tidak materi-materi
awal) sudah ia pahami. Syahadatain, ma’rifatullah, ma’rifaturrasul, dst
sudah dipahaminya sejak di pesantren dahulu. Lantas, masihkah ia harus
tarbiyah??
Sahabat saya tadi bukanlah orang pertama, dan mungkin
belum akan menjadi yang terakhir yang bertanya seperti pertanyaan
diatas. Masalah ini sudah sering sekali terjadi. Tetapi tetap saja bagi
sebagian ikhwah/akhwat masih kesulitan menjawab masalah tersebut.
Paling tidak, ada pendekatan yang keliru ketika memahami bahwa tarbiyah
(liqoat) hanyalah seputar materi belaka. Ini menjadikan liqoat kita
menjadi liqo yang materialistis (hanya mengejar materi). Padahal jika
materi yang dikejar, tidak perlu lulusan pesantren pun bisa jadi sudah
menguasai materi-materi ini.
Sudah puluhan buku ditulis tentang
materi-materi tarbiyah, dan ratusan buku penunjang tarbiyah lainnya,
semuanya sudah dijual bebas. Siapapun bisa membeli dan membacanya. Pun
penyusunannya juga sudah menggunakan bahasa yang sederhana (bukan lagi
dalam bahasa Arab menggunakan panah-panah seperti materi Rasmul Bayan di
awal). Targetnya, semuanya bisa memahami materi tadi. Baik dia sudah
tertarbiyah maupun belum tarbiyah.
Jadi, jika materi-lah tujuannya,
niscaya bubarlah tarbiyah kita. Paling tidak ada beberapa hal yang ada
dalam tarbiyah sehingga bahkan seorang kiay besar pimpinan pondok
pesantren pun tetap mengikuti tarbiyah. Beberapa hal itu, antara lain:
Muwashoffat
Ini adalah inti dari tarbiyah kita. Tarbiyah yang berbasis muwashaffat.
Tujuan, sasaran tarbiyah. Adapun materi-materi tadi disusun untuk
mencapai muwashaffat ini. Tidak perlu semua materi disampaikan. Jika
dirasa muwashaffatnya telah terpenuhi, beberapa materi boleh tidak
diberikan, atau sekedar penugasan saja.
Ada 10 muwashaffat
tarbiyah, mulai dari Salimul Aqidah (aqidah yang selamat), Shahihul
Ibadah (ibadah yang shahih), Matiinul khuluq (akhlak yang mulia),
Qadirun ‘alal kasbi (berpenghasilan), Mutsaqqaful fikr (pemahaman yang
luas), qawiyyul jism (Jasad yang kuat), Mujahidun Li Nafsihi
(Bersungguh-sungguh dengan dirinya), Munazzham fi Syu’unihi (terpelihara
dalam urusannya), Haritsun ‘ala waqtihi (Terjaga waktunya), dan Nafiun
li Ghairihi (Bermanfaat bagi yang lain)
Parameter-parameter
turunannya jelas dan terukur. Dan sekali lagi, ukuran ketercapaian
muwashaffat ini bukanlah sudah paham atau tidaknya peserta tarbiyah
terhadap materi-materi tarbiyah ini, tapi sejauh mana muwashaffat ini
betul-betul hadir dalam diri setiap da’i. Dan hal ini tidak mungkin
tercapai hanya dengan membaca bukunya saja. Perlu ada orang lain yang
menjadi cermin, melihat ketercapaian diri ini akan ciri pribadi yang
Islami yang dituntut oleh muwashaffat diatas. Semuanya lebih mudah
dicapai ketika bersama-sama dalam kelompok halaqah tarbiyah.
Jamaah
Hal yang lain yang akan diperoleh dalam kelompok-kelompok tarbawiyah
kita adalah bergabungnya kita dalam sebuah jamaah, utamanya jamaah
dakwah. Dalam sebuah haditsnya, dari Umar bin Khattab ra Rasulullah SAW
bersabda; “Barangsiapa yang ingin mendapatkan wangi syurga, maka
hendaklah ia selalu bersama jamaah, karena sesungguhnya syaithan senang
bersama orang yang sendirian, dan ia akan lebih menjauh dari dua orang”
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi). Dalam sabdanya yang lain Rasulullah SAW
melarang untuk menyendiri ketika bermalam dan menyendiri ketika safar
(HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam
Ash Shahihah)
Kebersamaan dalam sebuah jamaah adalah sebuah
keniscayaan dalam Islam. Pun dalam beramal, Allah SWT menjanjikan pahala
yang jauh berlipat ganda bagi orang yang beribadah secara berjamaah
dibanding yang beribadah secara sendirian.
Karena itulah, tarbiyah
ini melalui kelompok-kelompok halaqah sebagai sebuah jamaah amal,
menuntut dan mengajarkan kita selalu beramal jama’i. Bekerja,
melaksanakan tugas-tugas dakwah, dan merancang program-program dakwah
dilakukan secara berjamaah, terorganisir dalam sebuah jamaah. Hal ini
tentu saja tidak meninggalkan kewajiban amal fardhi (secara pribadi),
tetapi amal ini dilaksanakan dan dievaluasi (di mutabaah) dalam halaqah
tadi serta mendorong lahirnya fastabiqul khairaat. Dengan begitu beramal
jadi lebih mudah karena dilakukan dalam sebuah jamaah.
Harakah dakwah
Dalam bukunya “Menuju Jamaatul Muslimun”, Syaikh Hussain bin Muhammad
bin Ali Jabir berkata bahwa keterlibatan seorang muslim dalam sebuah
jamaah minal muslimin saat ini adalah sebuah kewajiban. Sejak runtuhnya
kekhilafahan Islam paa 1924 M, umat Islam memang tercerai berai dan
mendapat gempuran baik secara lahiriyah maupun fikriyah dari seluruh
sisi. Hilangnya kebanggaan akan Islam, lunturnya akhlaq Islam, dan pola
pikir yang hedonis materialis, adalah sebagian hasil dari
gempuran-gempuran tadi.
Seburuk apapun sebuah kekhilafan, masih
lebih baik dari pada hidup tanpa pemimpin. Runtuhnya kekhilafahan
menjadikan Islam seperti sebuah lading subur yang tanpa penjaga. Semua
kalangan berebutan ingin mengambil, mencaplok, dan menguasainya.
Karenanya, banyak tokoh-tokoh pemikir dan mujaddid Islam mencita-citakan
untuk kembali membangun sebuah kekhilafahan. Salah satu harakah yang
bercita-cita untuk membangun kembali harakah Islamiyah yang telah runtuh
itu adalah jamaah tarbiyah ini.
Ada 7 tingkatan amal (maraatib
al-‘amal) yang dituntut dari seorang peserta tarbiyah, mulai dari Ishlah
al’Fard (perbaikan diri), takwin bait al-muslim (membangun keluarga
muslim), irsyaad al-mujtama (membimbing masyarakat), tahrir al-wathan
(membebaskan negeri), ishlah al-hukumah (memperbaiki pemerintahan),
tauzi’ ats-tsarwah li shalih al-ummah (mempersiapkan seluruh potensi
untuk kemashlahatan ummat), hingga akhirnya menghadirkan Islam sebagai
ustadziah al-‘alam (guru bagi alam semesta), memimpin dunia dengan
kepemimpinan Islam.
Halaqah kita adalah sel terkecil dari kerja besar dakwah memperbaiki ummat ini.
Mutabaah
Hal yang tak kalah penting yang terwujud dalam halaqah kita adalah
adanya proses mutabaah (evaluasi), baik mutabaah proses ketercapaian
muwashaffat kita, juga mutabaah program-program dakwah kita.
Hal
inilah yang membedakan dakwah ini dengan dakwah yang lain. Metode dakwah
ada yang berbentuk tabligh, ta’lim, maupun halaqah. Semua metode itu
punya kelebihannya sendiri, namun proses mutabaah hanya akan berlangsung
efektif dalam kelompok-kelompok kecil, dalam liqoat-liqoat kita.
Proses mutabaah ini pula yang menjadi salah satu kekuatan dari proses
tarbiyah ini. Adanya kesinambungan program, dan evaluasi yang jelas
menjadikan gerak dakwah tidak berjalan di tempat, atau maju dengan tanpa
arah. Proses mutabaah menjadikan amal yaumiyah (amal harian) seorang
peserta tarbiyah terjaga. Proses mutabaah menjadikan proses muhasabah
bisa lebih terdorong. Proses ini pula yang menjadi kunci dari manajemen
dakwah kita.
Ukhuwah
Hal berikut yang dihadirkan dalam proses
tarbiyah di halaqah-halaqah kita adalah hadirnya ukhuwah yang erat,
ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah yang mengikat kita lebih dari ikatan sedarah,
tapi diikat dengan amal-amal Islami. Persaudaraan dalam Islam.
Ada
3 tingkatan ukhuwah yang dibangun melalui halaqah kita, yaitu ta’aruf,
tafahum, dan takaful. Ta’aruf adalah proses kenal-mengenal, hingga
tingkat pengenalan yang lengkap. Mengenal dirinya, keluarganya,
lingkungannya, dan lain-lain. Tafahum adalah saling memahami, satu
tingkat diatas taaruf. Ikhwah dituntut untuk bisa saling memahami dengan
ikhwah lainnya. Paham kebiasaan-kebiasaannya, hal yang disukai atau tak
disukai, serta paham kondisi dan masalah ikhwah lainnya, utamanya
saudaranya dalam halaqahnya. Tingkatan ukhuwah terakhir adalah takaful.
Takaful adalah saling menanggung beban. Inilah puncak ukhuwah kita.
Takaful adalah proses dimana beban seorang ikhwah, turut ditanggung
bersama oleh ikhwah yang lain. Tak ada beban yang terlalu berat tuk
dibagi, dan tak ada yang terlalu ringgan tuk ditanggung sendiri. Inilah
inti ukhuwah Islamiyah,ukhuwah yang dibangun melalui proses tarbawiyah
kita.
***
Pemaparan-pemaparan
diatas adalah beberapa hal yang seharusnya hadir dalam kelompok-kelompok
halaqah kita, sehingga proses tarbawiyah menjadi lebih hidup dan
mengikat. Sebuah ikatan yang lahir dari buah keimanan yang diatasnya
diletakkan perangkat-perangkat tarbawiyah. Perangkat ini yang kemudian
menjadi sebuah sistem yang memiliki daya penggerak, daya perubah, dan
daya pendorong yang cukup kuat untuk menjadikan ikhwah peserta tabiyah
mampu menjalankan roda gerak dakwahnya.
Pertanyaan yang kemudian
muncul adalah, apakah tiap halaqah kita telah terwujud seperti ciri-ciri
diatas?? Pertanyaan wajar yang timbul ketika membandingkan proses
idealita tarbawiyah dengan realita halaqah kita. Dalam sebagian halaqah
yang ada, ciri-ciri diatas memang belum terlalu tampak. Ini karena ada
hal lain yang juga terwujud dalam halaqah, yaitu:
Belajar sepanjang hidup
Islam mengajarkan kita untuk belajar sepanjang hidup. Begitu juga
tarbiyah kita. Tarbiyah adalah proses seumur hidup, sepanjang usia.
Proses yang berjalan secara sistemik, dengan target-target pencapaian
seperti diatas. Begitulah tarbiyah mengajarkan kita, sehingga proses
diatas akan terbentuk, menyatu dalam diri-diri para da’i peserta
tarbiyah. Tarbiyah adalah perjalanan dakwah seumur hidup, sepanjang
hayat masih dikandung badan.
Kehidupan ini sejatinya adalah proses
pembelajaran, belajar dari orang-orang terdahulu, belajar dari
lembaga-lembaga formil atau pun non formil, belajar dari pengalaman, dan
tentunya belajar hidup dari kehidupan itu sendiri. Jadi tarbiyah
(belajar) sepanjang hidup adalah sebuah tuntutan jaman, tuntutan
keadaan, dan yang paling penting adalah tuntutan agama ini.
Jadi, haruskah kita tarbiyah??
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar
komentar anda sebagai masukan yang membangun agar lebih giat Membaca, Mendengar, Menulis, dan Mengaplikasikan serta Mengajarkan